Haul: Tradisi Tahunan

April 1, 2009

Setiap tahun tepatnya saat memasuki awal bulan April desa saya bernama Buntet Pesantren mengadakan Haul. Sebuah tradisi untuk menghormati para sesepuh dan orang tua yang telah mendahului kita. Kebiasaan ini sudah berlangsung cukup lama. Barangkali sudah ratusan kali mengadakan haul.

Buntet Pesantren merupakan sebuah kampung kecil sekitar 10 hektar luasnya. Penghunginya adalah para keluarga kyai dan “abdi dalem” yang bahu membahu untuk bersama-sama merawat dan mendidik para santri. Setiap tahun inilah antara keluarga santri, keluarga kyai dan para tamu dari mana pun berbaur menjadi satu dalam perhelatan Haul.

Acaranya seperti biasa dari dulu tidak pernah berubah. Yang inti adalah berziarah di makbarah Gajah Ngambung kemudian pengajian umum yang dikonsentrasikan di alun-alun Pondok Pesantren. Para pembicara biasanya orang-orang besar dalam percaturan pemerintahan, politik dan tokoh kharisma dari kalangan kyai. Hampir semua presiden sudah pernah datang ke kampung pesantren ini.

Moment haul yang bisa menyedot ratusan ribu orang ini, tentu saja membuat kampung ini sumpek dan berdesaakan saat hari terakhir haul. Biasanya pada hari Sabtu dan malamnya. Para pedagangan yang menjejali kanan kiri jalan juga ditambah penduduk sekitar Buntet Pesantren membuat sulit berjalan. Karenanya, para tamu biasanya yang menggunakan kendaraan umum itu bisa menggunakan jalan alternatif masuk ke kampung pesantren ini.

Haul kali ini rencanaanya akan dihadiri oleh tokoh ulama dari NU sendiri. Padahal pihak panitia biasanya mengundang orang-orang besarĀ  di Indonesia. Mungkin karena moment haul kali ini menjelang Pemilu, maka tokoh yang dipanggil adalah orang yang tidak masuk dalam lingkaran politik. Siapa deia, KH. Hasyim Muzadi.

Semoga saja haul ini bukan menjadi ajang politik mencari suara, lebih jauh lagi bukan merupakan arena dukung mendukung tetapi kembalikan moment haul kepada jatidirinya yaitu sebagai semangat untuk mengajari kepada para santrinya sebagaimana dikenal dalam jargon orang-orang NU: Al Muhafadzotu Min Qodimi as Sholih wal Akhdu bil Jadidi al Aslah, artinya menjaga tradisi lama yang masih baik dan menerima/mengambil tradisi baru yang lebih baik.

wassalam

Tinggalkan Balasan