Oleh: Muhammad Kurtubi

Dulu di Pondok Buntet Pesantren para kyai memiliki sawah. Rata-rata setiap tahun panen 3 kali. Para santri biasanya terlibat dalam penanganan pasca panen itu. Setelah itu nasi liwet ditanak sendiri menggunakan beras pemberian kyai rasanya wangi pulen dan empuk. Tapi kini bukan saja para kyai tapi juga para keluarga petani lainnya sudah tidak tertarik lagi bertani?

Pemerintah saat ini dianggap pilih kasih. Ketika minyak dunia cenderung naik, pemerintah mengimpor minyak dengan harga tinggi lalu dijual murah. Saat minyak goreng naik pemerintah pun melakuan impor harga tinggi dan dijual dengan harga murah pula. Namun giliran petani menjaul padi, harganya tetap rendah dan saat petani mulai tanam, harga pupuk dibiarkan tinggi.

“Sepertinya pemerintah itu sengaja mendzolimi petani.” ujar penelpon dari Aceh. dalam sebuah dialog interaktif di radio RRI pro-3 pagi tadi, Sabtu, 19 April 2008.

“Kita sadar bahwa petani merupakan soko guru eknomoi bangsa ini, namun kelihatannya pemerintah tidak membela petani. Jika UUD masalah tanah garapan tidak selesai, Siap=siap saja bangsa ini kena kutuk.” umpat seorang penelpon dari wilayah lain.

***

Keprihatinan dua penelpon tersebut setidaknya bisa mewakili orng yang kesal dengan kinerja pemerintah dalam hal menangani masalah pangan di Indonesia. Departemen pertanian yang dianggap bisa mewakliki petani rupanya juga tidak mampu memberikan solusi yang dapat mengangkat harkat petani.

Para petani serasa putus asa. Dari saat menanam pupuk dihargai mahal sekali. Sementara itu, ketika menghadapi pasca panen, petani harus rela padinya dihargai hanya Rp. 2000,-

Karenanya, petani dari hari ke hari semakin malas menanam, ditambah para keluarga petani yang berpindah ke kota, semkain lama lahan pertanian semakin ditinggalkan oleh anak cucunya. Lebih jauh, tanah garapan pertanian semakin hari digusur untuk keperluan perumahan dan sarana perkantoran.

Makin hari makin sulit saja untuk memeperoleh makanan. Bila para petani sudah tidak setia berkecimpung di sawah, sedangkan pemerintah bila tidak serius meladeni para jawara petani, siap-siap saja negeri ini dirundung kesedihan berkepanjangan.

Dari sabang sampai Merauke konon tanahnya sangat subur. JIka di Jawa sudah berangsur-angsur menipis tanah garapan petani, hendaknya pemrintah mengalihkan konsentrasi kepada wilayah lain semisal di Irian jaya, di Sulawesi yang tanahnya sangat perawan. Tutur penelpon lain mengusulkan.

Akhirnya, jika pemerintah serius mengurus para jawara petani, maka Insya Allah keberkahan bumi semakin subur. Sebaliknya, jika terus menerus dibiarkan petani sendirian itu berarti sama saja pemerintah mendzolimi petani. Karenanya, janganlah pemerintah mendozlimi petani.

Penulis adalah alumni MANU Buntet Pesantren Cirebon.

2 Tanggapan ke “Pemerintah Jangan Dzolimi Petani”

  1. Youfan berkata

    Assalamualaikum wr wb.
    iseng-iseng cari website tentang buntet malah bisa buka blog ini.
    senang rasanya mencium bau pesantren lagi…apalagi di dunia maya ini.
    Yup, dulu aku juga denger dari ibuku, kalo dulu konsep pondok Buntet adalah guru bukannya digaji dengan uang, tapi dengan sawah yang kemudian guru bisa menuai hasil panennya setiap saat. sehingga guru tetap ikhlas dalam mengajar.
    Tapi sekarang sudah jauh berbeda.
    kapan terakhir ke Buntet? Maka anda akan lihat banyaknya gedug-gedung baru.

  2. santribuntet berkata

    terima kasih singgah ke mari. Ohya, web ini blm diaktifkan lagi. Saya aktif di sini: http://www.santribuntet.wordpress.com

Tinggalkan Balasan